Dekolonisasi Sejarah dan Historiografi

Pojok MNI bekerjasama dengan CISForm UIN Sunan Kalijaga mengadakan seri diskusi santaimengeksplorasi wacana dekolonisasi ilmu-ilmu sosial bersama akademisi dan praktisi yang concern dengan isu tersebut. Program ini diinisasi dan dipandu olehDr. Moch Nur Ichwan, dosen UIN Sunan Kalijaga sekaligus Direktur Pusat Studi CISForm UIN Sunan Kalijaga.

Seri diskusi pertama menghadirkan sejarawan sekaligus ilmuwan politikProf. Farish A. Noor dari Universitas Malaya, Malaysia. Beliau membahas "Dekolonisasi Sejarah dan Historiografi" yang merupakan aspek penting dalam gerakan Dekolonisasi ilmu pengetahuan.

Di sesi pengantar, Dr. Moch Nur Ichwan menyatakan bahwa dekolonisasi bukanlah konsep baru karena sebenarnya ide ini sudah berkembang sejak pertengahan Abad ke-20. Namun isu ini masih perlu dieksplorasi lebih lanjutuntuk mengetahui bagaimana umat Muslim hari inimemahami dan menggunakankonsep ini, sejauh mana anti-barat dibungkus dengan jargon dekolonisasi.

Ketika bicara tentang dekolonisasi, kita harus berhati-hati menggunakandikotomi "Barat" dan "Non-Barat". Ada satu keterangan yang menarik di buku Robert Bartlett. Sebelum terjadi Perang 30 tahun (Thirty-Years War) di Eropa, sistem nilai di Eropa tidak jauh beda dengan apa yang ada di Asia dan masyarakat di wilayah lainnya. Namun perubahan besar terjadi pada Abad ke-17, dengan berkembangnya dua paham yaitu sekuler dan kapitalisme. Yang kemudian memunculkan suatu kelas kapitalis baru. Kekuatan ekonomi Eropa disamakan dengan kekuatan masyarakat kulit putih bangsa Eropa itu sendiri. Untuk memahami apa itu Barat, Prof. Farish Noor merekomendasikan untuk membaca buku Robert BartlettThe Making of Europe.

Penelitian Dr. Farish Noorfokus pada buku-buku yang ditulis oleh kolonialis dalam period ini 1800-1900 karena pada masa ini Inggris dan Belanda dan Perancis dan Spanyol, anggota kompeni-kompeni yang datang bukan hanya untuk menaklukkan teritorinya tapi juga mereka menulis tentang kita, tanah-tanah yang dijajah oleh mereka. Contohnya buku ini ditulis oleh orang Inggris tentang Jawa tapi untuk orang Inggris di Inggris, bukan untuk orang Jawa. Dan disinilah proses data collecting. Data collecting bukan sesuatu yang innocent, ada agendanya. Knowledge dan power ada agandanya. Data dan kuasa itu ada kaitannya. Knowledge and power are interconnected. Tulisan-tulisan sarjana-sarjana Belanda tentang Indonesia adalah bahan yang menarik untuk dibaca kembali.

Pandangan mereka tentang Asia bagaimana Asia Tenggara yang kita tinggali sebenarnya merupakan rekayasa Eropa, the reinvention of Europe. Buat saya perkataan Asia Tenggara merupakan salah satu peninggalan kolonialisme. Ini ada sejarahnya sendiri.

Dari situ kita lihat bagaimana sejarah ditulis.Perkataan-perkataan yang digunakan dalam tulisan sejarah.

Apa yang menarik adalah mengapa dan bagaimana ramai antara masyarakat umum terutama di Asia Tenggara tidak begitu sensitif atau alert dengan cara dan bagaimana ide2 dan vocabulary barat masuk ke kita. Misal kata Empire untuk mendefinisikan kerajaan-kerajaan yang ada di nusantara.

Bagaimana kita melakukan dekolonisasi jika sejarah itu tidak lagi berdasar arsip, dokumen original. Mahasiswa kita cenderung langsung melihat Wikipedia.

Berita Terkait

Berita Terpopuler